h1

Protokol Nggrembyang

Januari 25, 2010

Diberi nama demikian karena kebinganan iani terjadi di Nggrembyang, sebuah dusun di desa temuasri kec. Sempu Banyuwangi,a dimana dulu bapak Esmit menulis karya-karyanya.
Tepatnya saat Acara rutin ngumpul-ngumpul anak muda-yang punya keingintahuan besar di dunia seni budaya- yanag mengatasnamakan GIRLI (pinggira kali) karena awal munculnya di akampus STAI Ibrahimy yang memang mepet kali-putih di Gentenga, Banyuwagi. modal kita cuma satu, KEINGINAN.
Ngumpul bareng ini selain untuk silaturrahim juga untuk berbagi apa pun (termasuk berbagi hutangan) selama kita tidak bertemu sebelumnya.
Acara yang berlangsung di rumahb rully dengan suguhan singkong renus lawan parutan kelapa diisi dengan Diskusi, dimulai dengan sejaragh teater, yang secara garis besar bisa dikatakan teater itu berasal dari yunani dengan artai bahasa dan istilah sedemikian rupa)yang mana teater itu sendiri secara ssederhana (mungkin) berarti seni pertunjukan.
Kemudian……..
Ada beberapa pendapat dan pertanayaan yang keluar, salah satunya kenapa seni ketoprak, ludruk, janger itu disebut-sebut salah satu bagian atau cabang tetater. Meski (mungkin) dulu pencipta kesenian itu mencipta karyanya tanpa tahu jika ada keseanaian serupa yang lebaih dulu muncul bernama teater. Bisa diambail contoh, dahulu bupati Suryongalam menciptakan Reog Ponorogo atas kreasinya sendiri, tanpa melihat atau mencontek metode teater.
Yang membuat saya bingung dan penasaran bukan itu, tetapi berikut ini…….
Salah satu teman berpendapat “ teater bisa dikatakan sebagai induk seni peran, dalam hal ini termasuk Ketoprak, Ludruk , Janger dan pertunjukan lainnya yang sejenis masuk di dalamnya.”
Jika pendapat itu mengandung kebenaran, sekarang kalau kita melihat teater yang berkembang di dunia kampus atau teater yang sudah tidak berumah di dalam kampus, kenapa selalu begitu warna pementasannya. Dengan kata lain, kalu ada oarang bilang teater maka yang muncul di benak (saya) adalah pementasan yang gerakannya tidak seperti pada seni pertunjukan semacam Janger, Ludruk. Ketoprak dsb. Tetapi dengan pola –pola gerakan kahasnya yang aneh-aneh. Kenapa tidak (mungkin karena memang saya belum pernah melihat) ada kelompok teater yang menampilkan seperti JAWA KELU(Janger, wayang, ketoprak, dan ludruk) murni- kalau memang teater itu punya pengertian seni pertunjukan yang menampilkan gerak, bunyi dan cerita.
Karena saya melihat, teater yang ditampilkan itu bukan Ketoprak, bukan juga Ludruk atau seni lainnya)
Jika teater dianalogikan Senjata, maka Ketoprak, Ludruk dkk adalah semacam Keris, Tombak, Tulup dkk. Kemudian yang ditampilkan teman-teman kenapa selalu seperti itu-yang menurut saya itu bukan Keris, Tombak, Tulup tetapi jenis senjata lain yang tidak atau belum masuk kedalam salah satu nama senjata tadi. Maka dari itu menurut saya seharusnya ada nama tersendiri untuk yang ditampilakan oleh teman-teman tersebut dan nama itu bukan teater, melainkan nama lain yang kedudukannya sama dengan ketoprak dll. Karena yang mereka bawa punya warna khas tersendiri seperti kekhasan yang aadaaa pada Ketoprak maupun Janger, baika dari cerita maupun bentuk dandanannya.
Kalau tetap dinamakan teater maka (seyogyanya)mau menampilkan bagian teater yang lain, Teater Ketoparak, Teater Janger. dll.
Ini ku tulis agar rekan-rekanita, sahabat, kawan maupun saudara /saudari yang bisa merasakan ketidakmengertian saya bisa menjelaskan itu kepadaku.
Terima kasih atas bantuanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: