h1

Ngomong Aja Sudah Salah

Januari 17, 2010

Mungkin memang benar jika bangsa Indonesia ini sering dikatakan salah kaprah. Maunya menjadi yang baik tetapi malah menjadi kurang baik. Jika kita lihat di daerah pedesaan yang dalam keseharian masyarakatnya masih menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar komunikasi antar masyarakanya, akhir-akhir ini muncul gejala di tengah masyarakat yang nanti bisa mengakibatkan punahnya bahasa daerah. Dengan demikian jiak bahasa daerah yang merupkan kekayaan nusantara itu sudah tidak ada lagi mak Bahasa Indonesia akan menjadi bukan bahasa pemersatu tetapi bahasa satu-satunya yang ada di Indonesia.

Sekarang ini banyak orang tua yang mengajari dan mengajari anaknya ber-Bahasa Indonesia. Hal ini memang tidak salah, tetapi juga sangat kurang benar mengingat lingkungan si anak berada lingkungan desa atau daerah yang masih menggunakan bahasa daerah. Tidak akan menjadi masalah jika anak ini terlahir dan tumbuh di daerah kota atau lingkungan yang mengunakan Bahsa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari. Kenapa hal ini saya nilai kurang benar. Pertama, penggunaaan Bahasa Indonesia tidak perlu dilatih kepada anak, karena ini nanti akan bisa dikuasai oleh anak dengan sendirinya seiring pertumbuhan. Terkecuali jika penggunaan Bahasa Indonesia di sini hanya sebatas idiom atau ungkapan yang telah yang umum, seperti selamat datang dsb. Kedua, jika lingkungan anak adalah masyarakat yang dala percakapan sehari-hari masih menggunakan tingkatan bahasa sebagai kaidah sopan santun berbahasa(seperti masyarakat Jawa), ini akan berpengaruh pada sikap sopan santun anak kepada orang yang lebih tua. Ketiga, jika pembiasaan ini hanya mengaikuti tren, atau ikut-ikutan agar terlihat seperti kota sementara si orang tua bukan orang dalam kesehariannya tidak terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia maka nanti akan melahirkan bahasa baru yang salah, seperti yang sering terlihat di lingkungan saya. Misalnya penggunaan kata ikan dengan daging. Masyarakat Jawa pinggiran terbiasa menyebut lauk yang berasal dari hewani dengan sebutan iwak. Seperti iwak sapi, ini maksudnya daging sapi, iwak pitik, (pitik:ayam), sementara ikan dalam bahasa jawa juga disebut dengan iwak. Jadi untuk membahasakan iwak pitik sering terjadi kesalahan karena diartikan ke dalam nahasa Indonesia dengan ikan ayam. padahal di situ bukan ikan dengan ayam tetapi hanya daging ayam, dan masih banyak lagi keganjilan-keganjilan berbahasa lainnya.

Alangkah baiknya jika bahasa sehari-hari itu tetap menggunakan bahsa lokal, dengan demikian kelestarian budaya yang majemuk ini bia terjaga.

Saya teringat pernyatan Mira Lesmana(produser film) saat promo film ke daerah-daerah Indonesia, Mira yang saat itu mengharapkan bisa mendengar langsung logat daerah tempat ia mempromosikan karyanya dibuat kecewa oleh gaya para kawula muda yang ternyata lebih suka berkata ala Jakarta, elu elu ini gue. Dan ia semakin sadar jika Indonesia itu sempit, buktinya di mana-mana hanya ada Jakarta.

One comment

  1. good article
    http://mobil88.wordpress.com



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: